Senin, 29 Desember 2014
 “Kamu lahir bulan apa?”, kata seorang remaja kepada temanya. Temanya pun menjawab “21 Mei..” oo berarti, bintangmu gemini ya. Tahu tidak, minggu ini kamu akan tertimpa musibah kalau tidak percaya lihat saja zodiakmu di majalah itu” katanya. “Masa’ sih? Iya…ya…”

  Fenomena di atas seringkali terjadi di kalangan remaja islam yang ada di negeri ini. Membaca zodiak yang ada pada majalah-majalah remaja umumnya untuk mengetahui masa depan yaitu apa-apa yang akan mereka alami minggu ini. 

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmu nujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan).
   Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa apabila ilmu nujum-nya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiri adalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan- syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan-lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)
Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsungmaupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selainAllah ta’ala yang mengetahui perkara gaib. Padahal Allah ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah ta’ala berfirman yang artinya:
“Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml:65).

   Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firmanNya yang artinya,
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34).  
   Klaim bahwa ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah adalah kekafiran yang mengeluarkan dari islam.

Hukum Membaca Ramalan Zodiak
  Orang yang membaca ramalan bintang/zodiak baik itu di majalah, koran, website, melihat di TV ataupun mendengarnya di radio memiliki rincian hukum seperti hukum orang yang mendatangi dukun, yaitu sebagai berikut:
Jika ia membaca zodiak, meskipun ia tidak membenarkan ramalan tersebut. maka hukumnya adalah haram, sholatnya tidak diterima selama 40 hari. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam yang artinya, “Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)
   Jika ia membaca zodiak kemudian membenarkan ramalan zodiak tersebut, maka ia telah kufur terhadap ajaran Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam. Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits sahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).


Wallahua'lam bi Showab.

Zodiak Dalam Pandangan Islam

Posted by Ist Hidayatullah

Download Vector Bubbles.
File : .ai dan .cdr
Kompatible: Adobe Illustrator dan CorelDRAW X4
Ukuran : 1.5 Mb


Download Vector Bubbles

Posted by Ist Hidayatullah
Komika Axis. True Type Font Download
By IST Hidayatullah.


Download Font Komika Axis

Posted by Ist Hidayatullah
Mastico 2014
Assalamualaikum,
  Mastico kali ini terbilang singkat. Hanya 3 hari saja. Mempersembahkan 5 lomba untuk fakultatif kali ini. 2 diantaranya adalah lomba yang diambil dari tahun lalu. Yaitu:

Konidin. Kontes Unik Mujahidin
  Salah satu lomba yang diambil dari tahun lalu. Kontes ini bertema sesuai namanya yaitu "Mujahidin". Dilakukan pada malam terakhir hari fakultatif, malam Jum'at 2 Januari 2014. Terinspirasi dari reality show seperti "Fashion Show" dengan maksud nuansa Islami.

Harry Potter. Harry si Pocong Militer
  Maksud nama "Hari Pocong Militer", akan tetapi setelah bermusyawarah nama dimaksudkan "Harry" adalah si pocong yang terdapat dalam logo diatas--sebagai maskot. Sistem permainan Harry Potter yaitu santri berdandan/berpakaian seperti pocong seunik-uniknya dan berjalan(melompat) dengan arahan pendamping melalui area. Memanfaatkan musim penghujan agar lapangan menjadi becek dan menjadi sukar bagi pocong untuk berjalan(melompat).

Petir. Perlombaan Estafet Air
 Perlombaan estafet air bergilir yang dimainkan 3 orang perwakilan kepengasuhan. Setiap babak terdapat rintangan yang harus dilewati pemain. Perlombaan yang akan membuat basah para pemain!

Logiko. Lomba Gigit Koin
  Perlombaan sejenis estafet. Berlari sambil menggigit koin kemudian diberikan pemain berikutnya, hingga garis finish. 

CCI. Cerdas Cermat Islami.
  Baca namanya udah pasti ketahuan ini lomba apa. Cerdas, Cermat, Islami. Terdiri dari 3 babak, Penyisihan-Semi Final-Final. Cerdas cermat dengan materi islami seperti, Fiqih, Tauhid(aqidah), Hadits, Al-quran, dll.

Demikian lomba-lomba untuk fakultatif semester I kali ini. Syukron
Wassalamualaikum.


Mastico 2014

Posted by Ist Hidayatullah
Minggu, 21 Desember 2014

Download Buletin eZukhruf edisi Jum'at, 19 Desember 2014.



Download "Meraih Syafa'at Al Musthafa"

Posted by Ist Hidayatullah

Penampakan logo baru eZukhruf pada buletin tanggal 19/12/14 
Assalamualaikum,
     Setelah sekian lama mati suri untuk beberapa bulan kami memulai memposting artikel. "Logo baru ezukhruf"

eZukhruf~Khazanah Santri Ar-Rohmah
     Berwarna hitam karena warna hitam warna yang netral(cocok untuk berbagai warna background-pen.). Pembuatan bentuk dasar dengan manual oleh Akh. Reyhan Salsabiel , tidak menggunakan font tertentu. Kemudian dicoba-coba untuk menghasilkan logo yang pas dipasang di buletin. Ditambah letter "Z" origami dan geometri dengan warna emas kekuningan dan coklat kemerahan.

Bentuk dasar~by Reyhan Salsabil

Ditambah letter "Z" origami(atas) dan geometri(bawah).
     Setelah dicoba digunakan pada buletin, ternyata hasilnya warna tidak cocok. Background hijau kontras dengan logo berwarna keemasan. Kemudian disimpulkan, simple aja tapi tetep apik.

simple aja tapi apik
     Modern Simple Logo haruslah mempunyai logo icon. Ikon logo tersebut menyesuaikan tema warna pada setiap buletin.

icon dari logo eZukhruf


contoh ikon logo eZukhruf pada buletin 19/12/14 yang
mengikuti tema warna buletin.
     Demikian release/peresmian logo baru buletin dwiminggu eZukhruf.
Wassalammualaikum.

 

Logo Baru eZukhruf

Posted by Ist Hidayatullah
Minggu, 05 Oktober 2014
   
     
LATAR BELAKANG
     Imaaratu Syu'uni al-Thalabah Hidayatullah (ISTH) adalah organisasi intra pesantren yang bergerak di lingkup kepesantrenan atau asrama. ISTH 2013-2014 merupakan generasi kelima yang merupakan organisasi mandiri dibawah naungan Dewan Kepengasuhan SMP Ar-Rohmah Putra Malang, yang berdiri pada tanggal 17 Agustus 2009. Lahirnya ISTH dilatarbelakangi munculnya berbagai macam permasalahan yang terjadi di lingkup asrama dengan tujuan meminimalkan berbagai permasalahan yang terjadi di asrama.
     ISTH dikelola oleh santri-santri SMP yang sebagian besar kelas 2 dan beberapa santri kelas 1 sebagai regenerasi periode berikutnya, yang dibina oleh asatidz Kepengasuhan. Hingga saat ini ISTH sudah dapat ikut andil dalam mensukseskan program Kepesantrenan bahkan sudah dapat memunculkan santri-santri berprestasi dalam bidangnya masing-masing dan juga membentuk tim-tim mandiri akademik maupun non akademik.

    BIOGRAFI ORGANISASI
Nama       : Imaaratu Syu'uni al Thalabah Hidayatullah
Alamat     :  SMP Ar-Rohmah "Boarding School" Malang.
                  Pesantren Hidayatullah Malang
                  Jl. Raya Apel no. 61 Sumbersekar Dau Malang
Didirikan  : 17 Agustus 2009

   SEJARAH ORGANISASI

Angkatan I 2009-2010
 Pembina          : Ust. Sulaiman
 Rois 'Amm      : Fahmi Lutfi
 Wakil              :
 Sekretaris       :
 Bendahara      :

Angkatan II 2010-2011
 Pembina          : Ust. Khoirul Anam
 Rois 'Amm      : Reyhan Duzadec
 Wakil              :
 Sekretaris        :
 Bendahara       :

Angkatan III 2011-2012
 Pembina          : Ust. Tafdhil Umam
 Rois 'Amm      : Akmal Fuadi
 Wakil              : Azzmi Saputra
 Sekretaris        : Selobing Purna A.
 Bendahara       : Salim Sholahuddin

Angkatan IV 2012-2013
 Pembina          : Ust. Khoirul Anam
 Rois 'Amm       : Nashiruddin Ilyas
 Wakil              : Ghozi Naufal Q.
 Sekretaris        : Farrel Akbar F.
 Bendahara       : A. Dzulfiqar Ghozi

Angkatan V 2013-2014
 Pembina          : Ust. Tafdhil Umam
 Rois 'Amm       : A. Hadziq Syihab Al-Fahroni
 Wakil              : Iqbal Herwin
 Sekretaris        : Irfan Gigih H.
 Bendahara       : M. Ridwan Kholid

Angkatan VI 2014-2015
 Pembina         : Ust. Tafdhil Umam
 Ro'is Amm     : Ilham Ridho Arsono
 Wakil             : Hafidh Nur Aziz
 Sekretaris       : Indrastito Rafly H.
 Bendahara      : A. Andian R. Asfandhani
      

History of ISTH

Posted by Ist Hidayatullah





Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

 


Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin
Definisi
     Al-Imam Al-Jauhari rahimahullahu menukil dari Al-Ashmu’i bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:
1. Dengan mendhammah hamzah: أُضْحِيَّةٌ
2. Dengan mengkasrah hamzah: إِضْحِيَّةٌ
    Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).
3. ‏ ضَحِيَّةٌdengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ضَحَايَا
4. ‏ أَضْحَاةٌ dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى
     Dari asal kata inilah penamaan hari raya أَضْحَى diambil.
     Dikatakan secara bahasa:
ضَحَّى يُضَحِّي تَضْحِيَةً فَهُوَ‏‎ ‎مُضَحِّ
     Al-Qadhi rahimahullahu menjelaskan: “Disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu ضُحًى (dhuha) yaitu hari mulai siang.”
     Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)

Syariat dan Keutamaannya
     Dalil yang menunjukkan disyariatkannya menyembelih hewan qurban adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama.
     Adapun dari Al-Qur`an, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
     “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Menurut sebagian ahli tafsir seperti Ikrimah, Mujahid, Qatadah, ‘Atha`, dan yang lainnya, النَّحْرُ dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan qurban.
     Asy-Syinqithi rahimahullahu dalam Adhwa`ul Bayan (3/470) menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa menyembelih hewan qurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.”
     Juga keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ‏‎ ‎مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ‏‎ ‎فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ‏‎ ‎اللهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا‎ ‎وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوا‎ ‎مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ‏‎ ‎وَالْمُعْتَرَّ
     “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)
     Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab Fathur Rabbil Wadud (1/370) berhujjah dengan keumuman ayat di atas untuk menunjukkan syariat menyembelih hewan qurban. Beliau menjelaskan: “Kata الْبُدْنَ mencakup semua hewan sembelihan baik itu unta, sapi, atau kambing.”
     Adapun dalil dari As-Sunnah, ditunjukkan oleh sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatannya. Di antara sabda beliau adalah hadits Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ‏‎ ‎فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ‏‎ ‎نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ‏‎ ‎فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ‏‎ ‎أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ‏‎ ‎قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ‏‎ ‎قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ‏‎ ‎النُّسُكِ فِي شَيْءٍ
     “Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)
     Di antara perbuatan beliau adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
ضَحَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ‏‎ ‎عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ‏‎ ‎أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ‏‎ ‎ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى‎ ‎وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلىَ‏‎ ‎صِفَاحِهِمَا
     “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca basmalah, bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5554 dan Muslim no. 1966, dan lafadz hadits ini milik beliau)
     Adapun ijma’ ulama, dinukilkan kesepakatan ulama oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Kabir (5/157) -Mughni-, Asy-Syaukani rahimahullahu dalam Nailul Authar (5/196) dan Asy-Syinqithi rahimahullahu dalam Adhwa`ul Bayan (3/470)1.
     Para ulama hanya berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya. Adapun keutamaan berqurban, maka dapat diuraikan sebagai berkut:
1. Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang telah lewat penyebutannya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Hajj ayat 36.
2. Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan dan melaksanakannya. Maka setiap muslim yang berqurban seyogianya mencontoh beliau dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini.
3. Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي‎ ‎وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ‏‎ ‎رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ‏‎ ‎شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ‏‎ ‎وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
     “Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163)
     Juga firman-Nya:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
     “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.
     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”
     Beliau mengatakan lagi: “Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي‎ ‎وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ‏‎ ‎رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
     “Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 162)
      Walhasil, shalat dan menyembelih qurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
     Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat.”

Hukum Menyembelih Qurban
     Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah bahwa menyembelih qurban hukumnya sunnah muakkadah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ‏‎ ‎وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ‏‎ ‎يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ‏‎ ‎شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
     “Apabila masuk 10 hari Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih qurban maka janganlah dia mengambil (memotong) rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim 1977/39)
     Sisi pendalilannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan ibadah qurban kepada kehendak yang menunaikannya. Sedangkan perkara wajib tidak akan dikaitkan dengan kehendak siapapun. Menyembelih hewan qurban berubah menjadi wajib karena nadzar, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيْعَ اللهَ‏‎ ‎فَلْيُطِعْهُ
     “Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaklah dia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696, 6700 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Faedah: Atas nama siapakah berqurban itu disunnahkan?
     Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullahu menjawab: “Disunnahkan dari orang yang masih hidup, bukan dari orang yang telah mati. Oleh sebab itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban atas nama seorangpun yang telah mati. Tidak untuk istrinya, Khadijah radhiyallahu ‘anha, yang paling beliau cintai. Tidak juga untuk Hamzah radhiyallahu ‘anhu, paman yang beliau cintai. Tidak pula untuk putra-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarganya. Dan barangsiapa yang memasukkan orang yang telah meninggal pada keumuman (keluarga), maka pendapatnya masih ditoleransi. Namun berqurban atas nama yang mati di sini statusnya hanya mengikuti, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyariatkan berqurban atas nama orang yang mati secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/423-424 cet. Darul Atsar, lihat pula hal. 389-390)
Berqurban atas nama sang mayit hanya diperbolehkan pada keadaan berikut:
1. Bila sang mayit pernah bernadzar sebelum wafatnya, maka nadzar tersebut dipenuhi karena termasuk nadzar ketaatan.
2. Bila sang mayit berwasiat sebelum wafatnya, wasiat tersebut dapat terlaksana dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 harta sang mayit. (Lihat Syarh Bulughil Maram, 6/87-88 karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu)
Hadits yang menunjukkan kebolehan berqurban atas nama sang mayit adalah dhaif. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2790) dan At-Tirmidzi (no. 1500) dari jalan Syarik, dari Abul Hasna`, dari Al-Hakam, dari Hanasy, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini dhaif karena beberapa sebab:
1. Syarik adalah Ibnu Abdillah An-Nakha’i Al-Qadhi, dia dhaif karena hafalannya jelek setelah menjabat sebagai qadhi (hakim).
2. Abul Hasna` majhul (tidak dikenal).
3. Hanasy adalah Ibnul Mu’tamir Ash-Shan’ani, pada haditsnya ada kelemahan walau dirinya dinilai shaduq lahu auham (jujur namun punya beberapa kekeliruan) oleh Al-Hafizh dalam Taqrib-nya. Dan hadits ini dimasukkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (2/844) sebagai salah satu kelemahan Hanasy.
Adapun bila ada yang berqurban atas nama sang mayit, maka amalan tersebut dinilai shadaqah atas nama sang mayit dan masuk pada keumuman hadits:
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ‏‎ ‎انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ‏‎ ‎ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
“Bila seseorang telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: shadaqah jariyah….” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Wallahul muwaffiq.

Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

Posted by Ist Hidayatullah

Gallery of ISTH

Loading...

Follow by Email

Copyright © 2014 IST Hidayatullah Powered by Blogger - Black Rock Shooter - Design By Djogzs - Redesign By Fariqi Az Zahid