Jumat, 26 September 2014





Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

 


Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin
Definisi
Al-Imam Al-Jauhari rahimahullahu menukil dari Al-Ashmu’i bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:
1. Dengan mendhammah hamzah: أُضْحِيَّةٌ
2. Dengan mengkasrah hamzah: إِضْحِيَّةٌ
Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).
3. ‏ ضَحِيَّةٌdengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ضَحَايَا
4. ‏ أَضْحَاةٌ dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى
Dari asal kata inilah penamaan hari raya أَضْحَى diambil.
Dikatakan secara bahasa:
ضَحَّى يُضَحِّي تَضْحِيَةً فَهُوَ‏‎ ‎مُضَحِّ
Al-Qadhi rahimahullahu menjelaskan: “Disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu ضُحًى (dhuha) yaitu hari mulai siang.”
Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)
Syariat dan Keutamaannya
Dalil yang menunjukkan disyariatkannya menyembelih hewan qurban adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama.
Adapun dari Al-Qur`an, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Menurut sebagian ahli tafsir seperti Ikrimah, Mujahid, Qatadah, ‘Atha`, dan yang lainnya, النَّحْرُ dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan qurban.
Asy-Syinqithi rahimahullahu dalam Adhwa`ul Bayan (3/470) menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa menyembelih hewan qurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.”
Juga keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ‏‎ ‎مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ‏‎ ‎فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ‏‎ ‎اللهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا‎ ‎وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوا‎ ‎مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ‏‎ ‎وَالْمُعْتَرَّ
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab Fathur Rabbil Wadud (1/370) berhujjah dengan keumuman ayat di atas untuk menunjukkan syariat menyembelih hewan qurban. Beliau menjelaskan: “Kata الْبُدْنَ mencakup semua hewan sembelihan baik itu unta, sapi, atau kambing.”
Adapun dalil dari As-Sunnah, ditunjukkan oleh sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatannya. Di antara sabda beliau adalah hadits Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ‏‎ ‎فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ‏‎ ‎نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ‏‎ ‎فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ‏‎ ‎أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ‏‎ ‎قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ‏‎ ‎قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ‏‎ ‎النُّسُكِ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)
Di antara perbuatan beliau adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
ضَحَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ‏‎ ‎عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ‏‎ ‎أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ‏‎ ‎ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى‎ ‎وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلىَ‏‎ ‎صِفَاحِهِمَا
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca basmalah, bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5554 dan Muslim no. 1966, dan lafadz hadits ini milik beliau)
Adapun ijma’ ulama, dinukilkan kesepakatan ulama oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Kabir (5/157) -Mughni-, Asy-Syaukani rahimahullahu dalam Nailul Authar (5/196) dan Asy-Syinqithi rahimahullahu dalam Adhwa`ul Bayan (3/470)1.
Para ulama hanya berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya. Adapun keutamaan berqurban, maka dapat diuraikan sebagai berkut:
1. Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang telah lewat penyebutannya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Hajj ayat 36.
2. Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan dan melaksanakannya. Maka setiap muslim yang berqurban seyogianya mencontoh beliau dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini.
3. Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي‎ ‎وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ‏‎ ‎رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ‏‎ ‎شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ‏‎ ‎وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163)
Juga firman-Nya:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”
Beliau mengatakan lagi: “Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي‎ ‎وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ‏‎ ‎رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 162)
Walhasil, shalat dan menyembelih qurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat.”
Hukum Menyembelih Qurban
Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah bahwa menyembelih qurban hukumnya sunnah muakkadah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ‏‎ ‎وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ‏‎ ‎يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ‏‎ ‎شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Apabila masuk 10 hari Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih qurban maka janganlah dia mengambil (memotong) rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim 1977/39)
Sisi pendalilannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan ibadah qurban kepada kehendak yang menunaikannya. Sedangkan perkara wajib tidak akan dikaitkan dengan kehendak siapapun. Menyembelih hewan qurban berubah menjadi wajib karena nadzar, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيْعَ اللهَ‏‎ ‎فَلْيُطِعْهُ
“Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaklah dia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696, 6700 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)
Faedah: Atas nama siapakah berqurban itu disunnahkan?
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullahu menjawab: “Disunnahkan dari orang yang masih hidup, bukan dari orang yang telah mati. Oleh sebab itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban atas nama seorangpun yang telah mati. Tidak untuk istrinya, Khadijah radhiyallahu ‘anha, yang paling beliau cintai. Tidak juga untuk Hamzah radhiyallahu ‘anhu, paman yang beliau cintai. Tidak pula untuk putra-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarganya. Dan barangsiapa yang memasukkan orang yang telah meninggal pada keumuman (keluarga), maka pendapatnya masih ditoleransi. Namun berqurban atas nama yang mati di sini statusnya hanya mengikuti, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyariatkan berqurban atas nama orang yang mati secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/423-424 cet. Darul Atsar, lihat pula hal. 389-390)
Berqurban atas nama sang mayit hanya diperbolehkan pada keadaan berikut:
1. Bila sang mayit pernah bernadzar sebelum wafatnya, maka nadzar tersebut dipenuhi karena termasuk nadzar ketaatan.
2. Bila sang mayit berwasiat sebelum wafatnya, wasiat tersebut dapat terlaksana dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 harta sang mayit. (Lihat Syarh Bulughil Maram, 6/87-88 karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu)
Hadits yang menunjukkan kebolehan berqurban atas nama sang mayit adalah dhaif. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2790) dan At-Tirmidzi (no. 1500) dari jalan Syarik, dari Abul Hasna`, dari Al-Hakam, dari Hanasy, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini dhaif karena beberapa sebab:
1. Syarik adalah Ibnu Abdillah An-Nakha’i Al-Qadhi, dia dhaif karena hafalannya jelek setelah menjabat sebagai qadhi (hakim).
2. Abul Hasna` majhul (tidak dikenal).
3. Hanasy adalah Ibnul Mu’tamir Ash-Shan’ani, pada haditsnya ada kelemahan walau dirinya dinilai shaduq lahu auham (jujur namun punya beberapa kekeliruan) oleh Al-Hafizh dalam Taqrib-nya. Dan hadits ini dimasukkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (2/844) sebagai salah satu kelemahan Hanasy.
Adapun bila ada yang berqurban atas nama sang mayit, maka amalan tersebut dinilai shadaqah atas nama sang mayit dan masuk pada keumuman hadits:
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ‏‎ ‎انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ‏‎ ‎ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
“Bila seseorang telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: shadaqah jariyah….” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Wallahul muwaffiq.

Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

Posted by Ist Hidayatullah


Amalan Mulia seputar Idul Adha

IMAGE_3
Beberapa hari pertama dari bulan Dzulhijjah tahun ini telah kita lewati. Semoga Allah subhaanahu wa ta’aalaa menerima amal kita dan menghitungnya sebagai amalan yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidaklah ada suatu hari yang amal shalih yang dilakukan padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Masih tersisa bagi kita di awal bulan ini beberapa hari yang memiliki keutamaan khusus dibanding hari-hari yang lain. Yaitu hari Arafah pada tanggal 9 dan keesokan harinya yang merupakan hari raya ‘Idul Adha. Berikutnya tiga hari setelah hari raya yang disebut hari tasyriq. Barangsiapa mengisi hari-hari itu dengan amalan yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dia akan meraih keutamaan yang besar.
Para pembaca rahimakumullah. Pada buletin edisi kali akan kami sebutkan secara ringkas makna dari hari-hari tersebut (hari Arafah, hari raya ‘Idul Adha, dan hari-hari tasyriq), keutamaannya, serta amalan apa saja yang dianjurkan pada hari-hari itu, berikut hukum-hukumnya sesuai dengan bimbingan Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Namun sebelumnya, penting untuk kita ketahui bahwa di antara amalan yang disyariatkan untuk diperbanyak ketika memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah mengucapkan takbir. Ibadah ini masih terus berlanjut hingga akhir hari-hari Tasyriq. Ada dua macam takbir yang disyariatkan pada hari-hari tersebut, yaitu Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad.
Takbir Muthlaq dilakukan sejak masuknya bulan Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq. Adapun pelaksanaannya adalah setiap waktu, tidak hanya setiap selesai shalat fardhu. Jadi pensyariatannya bersifat mutlak, oleh karena itulah dinamakan Takbir Muthlaq.
Sedangkan Takbir Muqayyad dilakukan setiap selesai shalat fardhu, dimulai sejak shalat shubuh hari ‘Arafah sampai seusai shalat ‘Ashr hari Tasyriq yang terakhir. Jadi pensyariatannya terikat dengan shalat, oleh karena itu dinamakan dengan Takbir Muqayyad (terikat).
Puasa Arafah
Bagi jama’ah haji, hari Arafah adalah saat yang istimewa. Karena pada hari itulah puncak pelaksanaan manasik haji ditunaikan, yaitu wukuf di padang Arafah. Pada saat itulah Allah subhaanahu wa ta’aalaa memuji dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya. Dan pada hari itulah, banyak hamba-hamba Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang dibebaskan dari an-naar (api neraka). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka yang lebih banyak daripada hari Arafah, dan sesungguhnya Allah akan mendekat dan kemudian membanggakan mereka di hadapan para malaikat dan berfirman: apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)
Bagi umat Islam yang tidak  sedang menunaikan ibadah haji pun, juga berkesempatan untuk mendapatkan keutamaan dan pahala yang besar di hari itu, yaitu dengan berpuasa (‘Arafah).
Walaupun hukumnya sunnah, namun amalan puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah ini memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
“(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)
Diterangkan oleh an-Nawawi rahimahullaah bahwa puasa ‘Arafah itu bisa menggugurkan dosa-dosa pelakunya selama dua tahun. Dan yang dimaksud dosa di sini adalah dosa-dosa kecil. Kalau tidak memiliki dosa kecil, diharapkan bisa meringankan beban  akibat dosa besarnya. Jika tidak, maka diharapkan akan mengangkat derajat orang yang berpuasa ‘Arafah tersebut. (Syarh Shahih Muslim)
Maka dari itu, seorang muslim hendaknya tidak terlewatkan dari kesempatan meraih keutamaan yang sangat besar ini.
Amalan lain yang juga dikerjakan pada hari Arafah adalah memulai mengumandangkan takbir muqayyad. Yaitu dimulai ketika selesai shalat shubuh sebagaimana telah disinggung di atas. Hanya saja para ulama berbeda pendapat, kapan lantunan kalimat yang mengandung pengagungan kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa ini diucapkan, apakah setelah istighfar (dalam bacaan dzikir setelah shalat), atau sebelumnya. Menurut Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullaah, yang benar adalah takbir muqayyad ini diucapkan setelah istighfar dan kalimat ‘Allahumma antassalam wa minkassalam…’ (Asy-Syarhul Mumti’)
‘Idul Adha
Tanggal 10 Dzulhijjah adalah hari raya ‘Idul Adha. Menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama, inilah hari haji akbar yang merupakan hari penunaian manasik haji yang paling utama dan paling tampak, di mana rangkaian manasik haji paling banyak dilaksanakan pada hari itu.
Disebut juga dengan hari nahr (نَحْرٌ), karena pada hari inilah dimulainya pelaksanaan nahr (dzabh atau penyembelihan) terhadap hewan kurban dan hewan hadyu (bagi jama’ah haji).
Inilah hari yang paling agung dan paling baik di sisi Allah subhaanahu wa ta’aalaa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah tabaraka wata’ala adalah hari nahr, kemudian hari al-qarr.” (HR. Abu Dawud)
Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata, “Sebaik-baik hari di sisi Allah subhaanahu wa ta’aalaa adalah hari Nahr, dan dia adalah hari Haji Akbar.” (Zadul Ma’ad)
Adapun hari al-qarr adalah sehari setelah hari nahr, yaitu tanggal 11 Dzulhijjah.
Shalat ‘Idul Adha
Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau biasa mengerjakan shalat dua hari raya di mushalla -(secara bahasa artinya tempat shalat)-. Para ulama menerangkan bahwa mushalla yang dimaksud di sini adalah tanah lapang, bukan masjid. Kecuali jika ada halangan, seperti hujan. Dalam kitab Shahih-nya, al-Imam al-Bukhari rahimahullaah meriwayatkan sebuah hadits (yang artinya):
“Adalah Rasulullah dahulu keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat.”
Shalat ‘Idul Adha disunnahkan untuk disegerakan pelaksanaannya agar kaum muslimin bisa  bersegera menyembelih hewan kurbannya. Karena demikianlah yang afdhal, bersegera melakukan penyembelihan agar daging kurban itu bisa segera dinikmati.
Sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang hendak menunaikan shalat ‘Id untuk mandi dan mengenakan pakaian yang paling baik sesuai dengan aturan syar’i dalam berpakaian. Bagi laki-laki sangat disukai untuk memakai wewangian, namun tidak bagi wanita.
Sepulang dari shalat ‘Id, disunnahkan untuk melalui jalan yang berbeda dengan jalan yang dilalui ketika berangkat. Kemudian bagi yang berkurban, hendaknya bersegera menyembelih hewan kurbannya. Alhamdulillah pada edisi buletin yang lalu telah dibahas hukum-hukum kurban dan berbagai masalah yang terkait dengannya. Silakan disimak kembali.
Hari Tasyriq
Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari nahr, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Menurut al-Imam an-Nawawi rahimahullaah, dinamakan hari tasyriq karena pada hari-hari itu orang-orang melakukan tasyriq (mendendeng) daging kurban dan menjemurnya di terik matahari. (Syarh Shahih Muslim)
Adapun Ibnul ‘Arabi -sebagaimana dinukilkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah – mengatakan bahwa dinamakan hari tasyriq karena hewan-hewan sembelihan, baik hadyu maupun kurban itu tidaklah disembelih kecuali sampai matahari mengalami isyraq (terbit dan telah tampak bersinar). (Fathul Bari)
Hari-hari tasyriq juga diistilahkan dengan hari-hari Mina. Karena selama tiga hari ini, jama’ah haji sedang menyempurnakan rangkaian manasik haji mereka di Mina, yaitu mabit (bermalam) dan melempar jumrah di sana.
Disunnahkan pada hari-hari ini untuk memperbanyak dzikir kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa, sebagaimana yang diperintahkan dalam ayat-Nya (artinya):
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (Al-Baqarah: 203)
Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Yang dimaksud dengan ‘beberapa hari yang berbilang’ pada ayat tersebut adalah hari-hari tasyriq.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Pada asalnya, berdzikir adalah suatu amalan yang dituntunkan untuk dilakukan setiap saat, kapanpun dan di manapun. Namun ketika Allah subhaanahu wa ta’aalaa memerintahkan berdzikir khusus pada hari-hari tasyriq -sebagaimana dalam konteks ayat di atas-, ini menunjukkan bahwa berdzikir pada hari-hari itu memiliki nilai dan keutamaan yang lebih.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri pun juga telah menganjurkan umatnya untuk menjadikan hari tasyriq ini sebagai hari-hari untuk berdzikir kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلّهِ تَعَالَى
“Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk menikmati makanan dan minuman, serta hari-hari untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Muslim)
Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullaah berkata, “Dalam hadits ini menunjukkan disukainya (disunnahkan) untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari itu (hari-hari tasyriq), berupa takbir dan yang lainnya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim). Baik takbir muthlaq maupun takbir muqayyad. Baik di masjid, di jalan, di rumah, maupun di pasar. Demikianlah sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin sendiri.
Hadits di atas juga menunjukkan larangan berpuasa pada hari tasyriq. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa hari-hari tersebut adalah saatnya untuk menikmati makanan dan minuman. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus salah seorang shahabatnya yang bernama Abdullah bin Hudzafah radhiyallaahu ‘anhu untuk berkeliling di Mina pada hari tasyriq sambil mengumumkan (yang artinya):
“Hendaknya kalian jangan berpuasa pada hari-hari ini (hari-hari tasyriq), karena itu adalah hari-hari untuk menikmati makanan, minuman, dan hari-hari untuk berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla.” (HR. Ahmad)
Dikecualikan bagi jamaah haji (tamattu’ dan qiran) yang tidak memiliki hewan hadyu untuk disembelih, boleh bagi mereka berpuasa pada hari-hari itu, sebagai denda karena tidak menyembelih hewan hadyu yang merupakan salah satu kewajiban haji. Ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman-Nya (yang artinya):
“Tetapi jika ia tidak mendapatkan (hewan hadyu atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kalian telah pulang kembali.” (Al-Baqarah: 196)
Sehingga bagi kaum mukminin, hari-hari tasyriq merupakan hari yang terkumpul padanya dua kenikmatan, kenikmatan badan (lahir) dan kenikmatan hati (batin). Kenikmatan badan dengan diberikannya kesempatan untuk menikmati makanan dan minuman, terutama daging kurban, karena pada hari itu adalah termasuk waktu yang terlarang untuk berpuasa.
Sedangkan kenikmatan hati adalah dengan banyak berdzikir kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Karena dzikir itu bisa menenteramkan dan menenangkan hati.
“Ingatlah, hanya dengan berdzikir (mengingat) Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)
Semoga menjadi bekal ilmu dan amal yang bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Posted by Ist Hidayatullah
Rabu, 24 September 2014

Aksi Damai Tolak Ahok Dikacaukan Pemotor Penghina FPI

Aksi Damai Tolak Ahok Dikacaukan Pemotor Penghina FPI

Saat aksi lagi tenang-tenang begini, tahu-tahu seorang pengendara motor mengacaukan suasana dengan menerobos massa di belakang mobil komando

Sedianya, aksi ribuan warga Jakarta menolak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Gubernur DKI berjalan damai dan tertib. Namun aksi di depan gedung DPRD Jakarta, Rabu (24/09/2014) pagi-siang itu sempat terganggu diduga karena adanya penghinaan terhadap ormas Front Pembela Islam (FPI).
Kekacauan sempat terjadi saat Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana atau Haji Lulung sedang berorasi. Belum sampai lima menit Haji Lulung berorasi di atas mobil komando, tiba-tiba terjadi keributan di samping massa.
Tepatnya pada pukul 13.33 Wib , seorang pengendara sepeda motor menerobos barisan massa, tepatnya di belakang mobil komando. Mungkin karena pemotor tersebut tampak memaksa menerobos barisan, tiba-tiba sejumlah orang peserta aksi mengerumuni pemotor.
Kontan perhatian sejumlah massa dan para awak media sempat teralihkan pada kericuhan yang terjadi. Rupanya, berdasarkan info yang dihimpun, pengendara tersebut menghina FPI saat menerobos lokasi demo.
“FPI anarkis,” ujar pemotor tersebut seperti ditirukan seorang anggota laskar FPI kepada media ini.
Menurutnya, pemotor itu seorang wanita. Entah kenapa orang itu tahu-tahu menyebut FPI anarkis. Yang jelas, dalam pantauan media ini, saat menerobos massa, pemotor itu menggeber gas motornya kencang-kencang, menyebabkan aksi di bawah panasnya terik matahari itu terganggu.
Diduga pemotor tersebut adalah provokator. Dugaan tersebut mencuat di kalangan massa.
“Kayaknya (pemotor itu bertampang) China,” tambah sumber dari FPI tersebut tanpa menyebut namanya.
Melihat kejadian itu, Haji Lulung langsung menenangkan massa dan meminta mereka kembali fokus pada aksi.
“Jangan terpancing, itu provokator!” seru Haji Lulung.
Sumber lain mengatakan bahwa pemotor itu adalah seorang pria.
Pastinya, pemotor itu mengenakan helm SNI full face, jaket kulit berwarna hitam, celana hitam, dan bersepatu. Ia mengendarai sepeda motor Ninja RR warna hijau.
Saat pemotor itu dikerumuni massa, seorang anggota FPI pun segera mengambil alih kemudi motor. Lalu membonceng pemotor ‘penghina FPI’ itu menjauhi gedung DPRD menuju arah timur Jl Kebon Sirih.
Sejurus kemudian, setelah menepi dan berhenti, ia melepaskan pemotor itu lalu menyuruhnya segera pergi. Anggota FPI berseragam putih-putih dan sorban hijau itu pun kembali ke lokasi demo.
“Sudah! Sudah! Nggak terjadi apa-apa,” serunya saat hendak dimintai komentar oleh media ini.
Umpatan “FPI anarkis” oleh pemotor nekat itu tampaknya memancing sejumlah massa aksi untuk bertindak anarkis terhadapnya.
“Anak-anak sempat mukul (pemotor itu),” aku seorang anggota FPI lainnya.
Seorang orator lain yang menenangkan massa mengatakan, ulah pemotor itu dikhawatirkan menjadi pengalih isu penolakan Ahok yang diusung warga Jakarta. Ia pun mengkhawatirkan media-media massa akan mempelintir berita aksi damai itu menjadi negatif.
Pengamatan, aksi di bawah kencangnya tiupan angin itu berakhir dengan damai dan tertib sekitar pukul 13.49 Wib. Sepanjang aksi, massa selalu memberikan ruang jalan bagi pengendara sepeda motor maupun mobil untuk melintas di samping mereka dengan sopan.
Dugaan lain muncul, pemotor itu berulah karena kesal akibat kemacetan lalu lintas di Jl Kebon Sirih. Aksi ini mendapat kawalan pihak kepolisian. Massa juga sempat membunyikan petasan di sela-sela aksi.*

Hari Ini, Sudah 88 Tahun Jalan Perjuangan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi


Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dan Khalid Meshal, kepala biro politik Hamas (palsharing.com)
Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dan Khalid Meshal, kepala biro politik Hamas (palsharing.com)

Hari ini (9/9/2014), usia Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, ketua persatuan ulama Muslim sedunia (IUMS), telah genap 88 tahun. Beliau yang dilahirkan pada tanggal 9 September 1926, menjadi referensi terbesar umat Islam dalam masalah keagamaan saat ini.
Beliau ulama pertama yang memelopori gerakan dakwah, namun di satu waktu, memperjuangkan fikih yang mudah dalam fatwa-fatwanya. Karena luasnya perbendaharaan keilmuan yang dimilikinya, tak heran kalau banyak ulama menyebutnya sebagai ensiklopedi. Beliau menulis dalam bidang fikih, usul fikih, maqashid syariah, fatwa, tafsir, akidah, ekonomi Islam, dakwah, pemikiran Islam, tazkiyatun nafsi, keluarga, tata negara, politik, dan sebagainya.
Telah banyak konferensi diadakan untuk membahas pemikiran beliau. Bahkan gelar master dan doktor telah diraih banyak cendekiawan dengan menulis tesis dan disertasi tentang pemikiran fikih beliau.
Ulama lulusan Universitas Al-Azhar ini juga berperan dalam memerangi kerusakan dan kezhaliman dari akarnya. Beliau termasuk tokoh tua yang turut bersaham dalam tumbangnya rezim-rezim zhalim sehingga muncullah istilah Musim Semi Arab. Hal itu terlihat dengan nyata dalam fatwa, khutbah dan buku-bukunya.
Tidak ada ulama yang setegas dan seberani beliau dalam menggerakkan rakyat untuk menentang penguasanya yang diktator. Sehingga massa pun menunggu-nunggu khutbah Jumat beliau yang penuh inspirasi revolusi. Gelombang perlawanan selalu memuncak pada hari Jumat. Tak aneh jika akhirnya, banyak gelar disematkan pada pada hari terbaik umat Islam ini.
Karakteristik beliau yang terakhir ini bisa sedemikian cemerlang karena beliau berkesempatan berguru kepada ulama-ulama besar Al-Azhar dan ulama-ulama besar gerakan Islam. Beliau berhasil menggabungkan antara fikih dan realitas; ilmu dan amal; mempertimbangkan pemahaman teks dengan tuntutan zaman; dan mewujudkan maksud-maksud syariah demi kemaslahatan banyak orang.
Banyak istilah fikih yang menjadi populer setelah beliau ulang-ulang dalam buku dan ceramah beliau; Fikih Sunan, Fikih Maqashid, Fikih Aulawiyat, Fikih Muwazanat, Fikih Waqi’ dan sebagainya.
Kalau sudah demikian apakah berarti beliau tidak melakukan kesalahan? Sebagai manusia biasa, beliau juga punya kesalahan. Tapi karena perjuangan dan karya besar beliau, kesalahan-kesalahan itu menjadi terlihat kecil. Seperti kaidah fikih yang menyebutkan bahwa jika air sudah mencapai jumlah banyak, maka kotoran tidak akan merusak kesuciannya.
Rabu, 17 September 2014

NO NAMA NILAI NIS Nama Ortu
1 ABDURRAHMAN AL FAUZI 100 1206 Supardi
2 ACHMAD ZAKI RABBANI 100 1212 Zaenal Musthafa
3 AHMAD DZAKY 100 1214 Jumaris
4 AHMAD FARAMARZ GHALIZHAN 100 1215 Arif Heru Swasono
5 AHMAD RAFI IRWANDY 100 1217 Nusyirwan
6 AHMAD REIHAN ZAKI 100 1218 Zaenal Abidin Ahmad
7 AVEROES FARABI 100 1231 Faried
8 DHANI REISHA FARID 100 1241 Suhartono
9 DHIMAS AMINUDIN R 100 1243 Adi
10 FACHRUDDIN YUSUF ILHAM M 100 1248 Arief Musthofa
11 FACHRUR IZZA 100 1249 Handoko Hadi
12 FARID ABDILLAH 100 1254 Agung Dwi Cahyono
13 FARROS HIBBAN HIDAYAT 100 1255 Taufiq Hidayat
14 FATAHILLAH ATH THARIQ 100 1256 Gajuh K.
15 FRISTIVANO RIO WIDYA 100 1259 Rahmat Agus Wijaya
16 INDRASTITO RAFLY H 100 1270 Rahmat Hidayat Rifa'i
17 JIRZIS WISAM MUHAMMAD 100 1272 Ainur Rofiq
18 LUTHFI NAUFAL 100 1276 Imam Maksum
19 M ATHALLAH 100 1297 Muhammad Fuad
20 M CHANIF RAHMAN AL FALAH 100    
21 M FARHAN 100 1287 Yusman K.
22 M GARDA MAULANA 100 1308 Gatuk Martono
23 M. ARDI RAMADHAN 100 1294 Inayatur Robbaniyah
24 M. FAUZAN HANIF 100 1306 Hindrawan Wibisono
25 M. RAKAN KABBANI 100 1291 Arif Rakhman
26 M. U. FARIQI AZZAHID 100 1333 Kusniantoro
27 OKA PAHALA RAMDHAN 100 133 Sunoto
28 SATRIO HANIF 100 1348 Joko Supri H.
29 SIDDIQ MUHAMMAD IDHAN 100 1349 A. Idhan Umar
30 YASSIR SAIRO AMRI 100 1358 A. Syaifuddin Nawawi
31 ZAIN NOOR FALAH 100 1359 Anas Karim
32 DWIKI RIKUS DARMAWAN 98 1244 Ir. Kusnindar
33 HAIKAL LUTHFI ALFARISY 98 1262 Abdul Halik
34 M FAJRUL FALAH 98 1277 Sutaji
35 RAFLI RAYHAN MUHAMMAD 98 1340 Moch. Maufiq
36 REVIAN MUHAMMAD A DANISH 98 1345 Ahmad Ravi
37 SALMAN SYAUQILLA 98 1279 Khaisul Ikhsan
38 ABYAN FIROS 96 1209 Effendi
39 AHMAD MUGHINI LABIB 96 1211 Mohammad Faruq
40 ALAM KURNIA AL FATAH 96 1220 Siti Yuliawan
41 ALIF MIFTAHUL AKMAL 96 1221 Zainul Riawan
42 ARRIJAL ISTIGHFAROTUDZDZILAL 96 1229 Sigit Tri Wicaksono
43 ASYRAFIL QOLBI 96 1230 Anang Mahmudi
44 DZULFIKAR ONTOSENO 96 1245 Arif Hutoro
45 FIKRIANSYAH MOHAMMAD NATSIR 96 1257 Indra Nur Fauzi
46 ILHAM RIDO ARSONO 96 1268 Djoko Sudarsono
47 M. ALIFAT HANANI SETIOKO 96 1294 Rosa Setioko
48 M. ARIQ ILHAM FALIH 96 1296 Imam Suhadi
49 M. FIROOS FAATINDI 96 1290 Sujito
50 M. RIFQI ADHANI 96 1325 Rahman Hakim
51 NAUFAN FARIS SHIDQI 96    
52 RACHMAN SALIM NAKUL 96 1316 Ali Nakul
53 RAYHAN SYAH ALAM 96 1334 Rachmad Eko Budi Prasetyo
54 WAHYU WIRA BHASKARA 96 1353 Syahruddin
55 ZAKY MAKARIM ARIF 96 1361 Arif Mayranto
56 CAHYA ALAM 95 1237 Bagus Wisnu Adi
57 ABDUL HAKIM BI FADLILLAH 94 1204 Muhammad Thoyyeb
58 GHALIL FIKRANSYAH 94 1260 Parman Parkasi
59 SULTAN FULVIAN HIDAYAT 94 1350 Benny Hidayat
60 SYAHRUL AKBAR ALHANANI 94 1351 Wanari 
61 AGUNG PRAKOSO 92 1213 Sholikin
62 ANANDA IRFAN FAUZI 92 1225 Miskan
63 ANDI BAIHAKY 92 1226 Moch. Sudirman
64 ANDI DZAKY MUFADDAL ICHSAN 92 1227 Ichsan
65 M. DENARA MAHIIBUL ABYAN 92 1301 Deden Suhendi
66 M. FARIS ABID ABIYYU 92 1304 Syam Teguh Wahono
67 MUFLIH MUHAMMAD FARRRAZ 92 1288 Gatot Suhardono
68 MUHAMMAD ITSFAN IBADUSSHOLIH 92 1313 Budi Prasetya
69 AINUR RIZQI 90 1287 Ainur Roudi
70 DAFFA IZUUL ISLAM 90 1239 Syahrul Mauriq
71 M IBNU HIBBAN 90 1311 Hidayaturrahman
72 M RAFIF R. S 90 1318 Sandhie Firiviyanto
73 M. RIFKI IRFAN ZARKASY 90 1324 Kunto Kuntjoro
74 NAUFAL ADITYA WIBOWO 90 1337 Eka Indrawati
75 RIDWAN BIMOSETYO 90 1346 H. Budi Susetyo
76 BILLIE UDDHIHARTA 88 1236  
77 ILHAM FADHIL 88 1267 Umar Sukanto
78 IMRON ROSYADI 88 1269 Imam Dedi J.
79 MUHAMMAD RAFI DARMAWAN 88 1317 M. Emawan Putra
80 MUHAMMAD RAFLI 88 1319 Syamsul Bahri
81 RASHIF ARSADA ZUHRI 88 1343 Saifudin Zuhri
82 TIRTA AKBAR SALSABILA 88 1352 Sanusi
83 HANIF FACHRURROZI 86 1265 HJ. Sarnianto Yanto
84 KEMAL AKBAR A 86 1274 Amin Nuri
85 M. ABIGAIL GHAZY 86 1293 Sulaiman Kurdi
86 RAFLI WAHYUDI 86 1341 Imam Wahyudi
87 WILDAN SIDQI ALFARIZY 86 1355 Ahmad Ravi
88 ERMON PRIMA 84 1246 H. Bambang Ariyanto
89 MEIDI AFRIANDA LUCKY AKBAR 84 1282 Dita Afriandi
90 PRANANTA HAROUN 84 1339 Driyarko Riyantori
91 RAHMAT FAHMI ANANTA 84 1342 Munali
92 SAJID ROMADHONI 82 1330 Dwi Haryanto
93 ALIEF MARDIKA PRATAMA 80 1222 Dwi Mardi Sucipto
94 BAYU AJI GATIADI 80 1235 Gatot Wiyono
95 FAIRUZZETA MUHAMMAD W 80 1251 Edwin Riksakomara
96 FAKHRI BAIHAQI 80 1253 Muhammad Umar
97 GILANG FEBRIANTO 80 1261 Desy Uliana
98 HANIF FIRZA USMAN 80 1278 Abdul Haamiid
99 M NAUFAL LUKMAN 80 1314 Lukman
100 M. HABIB AHNAF  80 1289 Slamet Karen
101 MAHDY AULY HAFIZH 80 1280 Arif Fathoni
102 ABDULLOH WAQASH 78 1205 Abdullah Badruddin
103 BINTANG ADYAKSA 78 1299 M. Nasichin
104 DAFFA RIZKI APRIA 78 1363 Adji Seputra
105 FAIRUS SAHRI 78 1303 M. Yahya
106 M ARLIN SYAH RAMDHAN 78 1296 Hartono
107 M. ZENAS IZZAN ABSHAR 78 1332 Ir. Suyanto
108 ROIS AKBAR 78 1329 Mohammad Muhdi
109 WUDI QABIDL PUTRANTO 78 1357 Didik Riyanto
110 ZAYYAN ABDUL KADIR SALLUM 78 1362 Alm. Abdul Kadir Sallum
111 ABDILLAH BARI I'TISHOM 76 1203 Akbar Yudha Trisna
112 AHMAD ANDIYAN RAFFLY ASFANDANI 76 1210 Udin
113 AHMAD NIZAR FIRDAUSI 76 1206 Asmuni
114 AMMAR SYURAYH 76 1224 M. Zainul A.
115 AQIL DZAKI DHIYA ULHAQ 76 1228 Wawang Wubha Aiyanta
116 AZHAR SOLEH 76 1232 M. Agus Soleh
117 AZIZ FATONI 76 1233 Noer Chamdi
118 DAFFA FADHILLAH 76 1238 Burhanuddin
119 HAIDIR YUSFA 76 1303 Koiriyah
120 HILMY MUFID A 76 1267 Ainur Rofiq
121 LUTFI AHMAD FIRDAUS 76 1275 Jeje Jarlaus
122 M HAFID NUR AZIZ 76 1309 Joko Rustanto
123 M NAUFAL NUR FIRDAUS 76 1315 Tonny Watoyani
124 M. FARIZ FIRDAUS 76 1305 Adang Junaidi
125 M. RIZAL NURDIN 76 1328 Iwan Nirwanto
126 MOCH. HABIB RAMADHAN 76 1284 M. Imam Syafi'i
127 NAUVAL SYAUQIL ILLAH 76 1335 Budiharjo
128 RAIHAN AL FARIZZY 76 1321 A. Sugiri
129 WIJAYA AL HADAD  76 1354 Rindi S.

Data Santri lulus kutaib 2013-2014

Posted by Ist Hidayatullah

Gallery of ISTH

Loading...

Follow by Email

Copyright © 2014 IST Hidayatullah Powered by Blogger - Black Rock Shooter - Design By Djogzs - Redesign By Fariqi Az Zahid